Back to Articles
Motivation

Belajar Memahami Masalah, Bukan Sekadar Tools

Di dunia IT, menguasai banyak tools sering terasa seperti kemajuan. Tapi ada fase di mana semua itu tidak lagi cukup, dan kita mulai sadar bahwa memahami masalah jauh lebih penting daripada memilih teknologi.

Rachel Ardana Putra Ginting
Draft
116 views
Belajar Memahami Masalah, Bukan Sekadar Tools

Saya pernah berada di fase di mana belajar IT terasa seperti mengumpulkan alat. Setiap ada framework baru, saya mencobanya. Setiap ada tools yang sedang ramai dibicarakan, saya ingin ikut paham. Rasanya, semakin banyak yang saya kuasai, semakin dekat saya dengan kata “siap”. Tapi di balik itu, ada satu hal yang pelan-pelan terasa kosong.

Momen itu biasanya muncul ketika berhadapan dengan masalah yang nyata. Bukan soal tugas kampus dengan spesifikasi rapi, tapi masalah yang kebutuhannya samar, berubah-ubah, dan kadang bahkan tidak bisa dijelaskan dengan jelas. Saya mencoba menyelesaikannya dengan cara yang saya tahu: memilih tools terbaik, menyusun arsitektur, dan menulis kode serapi mungkin. Namun hasilnya sering kali tidak menjawab kebutuhan sebenarnya.

Di situ saya mulai bertanya, apakah saya sedang menyelesaikan masalah, atau hanya sibuk menunjukkan kemampuan teknis. Saya terbiasa langsung memikirkan solusi, padahal belum benar-benar memahami persoalannya. Siapa yang terdampak, kenapa masalah ini muncul, dan apa yang sebenarnya dibutuhkan sering terlewat karena fokus saya terlalu cepat ke ranah teknis.

Perubahan cara pandang mulai terjadi ketika saya memaksa diri untuk berhenti sejenak. Sebelum membuka dokumentasi atau memilih tools, saya mencoba menuliskan ulang masalah dengan bahasa sederhana. Proses ini terasa lebih lambat dan tidak se-“keren” ngoding, tapi justru di sanalah banyak asumsi saya runtuh. Ternyata, masalah yang saya hadapi tidak selalu butuh solusi kompleks, hanya butuh dipahami dengan lebih jujur.

Seiring waktu, saya mulai melihat tools sebagai alat bantu, bukan tujuan. Tools bisa berganti, tren bisa berubah, tapi kemampuan memahami masalah akan selalu dibutuhkan. Di fase ini, belajar IT terasa lebih dewasa. Bukan lagi tentang seberapa banyak yang bisa dibuat, tapi seberapa tepat solusi yang dihadirkan.

Mungkin inilah salah satu pelajaran penting yang jarang dibicarakan. Bahwa sebelum menjadi ahli teknologi, kita perlu belajar menjadi pendengar yang baik terhadap masalah. Karena solusi yang baik hampir selalu lahir dari pemahaman yang matang, bukan dari alat yang paling canggih.

Give me six hours to chop down a tree and I will spend the first four sharpening the axe.

- Abraham Lincoln

This article is published by Rachel Ardana Putra Ginting

Comments (0)

No comments yet. Be the first!