Saat Proses Mulai Terasa Masuk Akal
Saya tidak tiba-tiba merasa yakin. Tapi di satu titik, proses yang sebelumnya terasa acak mulai membentuk pola dan perlahan terasa masuk akal.
Ada fase panjang di mana belajar terasa seperti berjalan tanpa peta. Saya mencoba banyak hal, berpindah dari satu topik ke topik lain, dan sering mempertanyakan apakah semua ini benar-benar membawa ke mana-mana. Saat itu, proses terasa melelahkan karena tidak ada tanda yang jelas bahwa saya sedang berkembang.
Perasaan itu mulai berubah ketika saya berhenti menuntut hasil yang cepat. Saya mulai melihat kembali apa yang sudah saya lewati, bukan untuk mencari pembenaran, tapi untuk memahami benang merahnya. Dari situ, saya menyadari bahwa banyak hal yang dulu terasa acak sebenarnya saling terhubung, hanya saja belum terlihat di awal.
Saya mulai memahami kenapa saya perlu melewati fase bingung, mencoba banyak hal, dan berkali-kali merasa tidak cukup. Semua itu membentuk cara saya berpikir saat menghadapi masalah. Saya tidak lagi hanya fokus pada apa yang bisa dikerjakan, tapi juga pada alasan di balik setiap langkah.
Di titik ini, proses belajar tidak lagi terasa sebagai beban. Ketidaktahuan tidak lagi menakutkan, melainkan menjadi bagian yang wajar. Saya mulai percaya bahwa selama saya terus bergerak dan reflektif, arah akan terbentuk dengan sendirinya, meski tidak selalu lurus.
Saat proses mulai terasa masuk akal, yang berubah bukan hanya cara saya belajar, tapi juga cara saya bersikap pada diri sendiri. Saya lebih sabar, lebih jujur, dan tidak lagi terlalu keras menilai kemajuan. Semua terasa lebih manusiawi.
Mungkin inilah momen yang sering ditunggu tanpa disadari. Bukan saat semua sudah jelas, tapi saat kita cukup tenang untuk menerima bahwa proses memang butuh waktu.
Experience is the name everyone gives to their mistakes.
- Oscar Wilde